Selasa, 03 April 2012

Ki Sunda, Manusia Sadar Sejarah


Sunda, kiwari banyak dipandang sebagai suatu entitas yang tidak memiliki akar kesejarahan yang kuat, kesejarahannya dikenal hanya memiliki tradisi lisan belaka sebagaimana terjadi pada cerita-cerita si Kabayan, Sangkuriang, ataupun Lutungkasarung. Cerita-cerita tersebut yang sebagiannya dikenal sebagai legenda karena tidak memiliki bukti sejarah, distribusinya hanya dilakukan melalui lisan ke lisan. Sehingga sangat wajar sejarah Sunda yang menempati pulau Jawa bagian Barat ini (Jawa Barat, Jakarta & Banten) adalah sejarah yang belum pernah dianggap selesai. Baru-baru ini Pemerintah Jawa Barat menyatakan bahwa sejarah titimangsa Jawa Barat (Sunda) masih terbuka untuk diperdebatkan. Itu artinya bahwa Sejarah kesundaan masih belum jelas duduk perkara serta titi mangsanya yang pasti sehingga masih terbuka untuk diperbincangkan kepastian waktunya. Padahal sejak ratusan tahun yang lalu telah ada seorang tokoh yang merintis sejarah Ki Sunda tersebut, yaitu Wangsakerta.


Saat Cirebon sedang menggeliat mencari bentuk kejayaannya, Pangeran Wangsakerta berhasil menyusun Sejarah Sunda bahkan Nusantara, namun beberapa kalangan menganggap bahwa Naskah yang ditulis Wangsakerta terlalu modern untuk ukuran jaman itu sehingga diragukan akan keasliannya, padahal dikatakan oleh Ajat Rohaedi bahwa 1000 tahun lalupun Teknologi modern telah ada dalam pembuatan Candi Borobudur, kenapa tahun 1700 dimana teknologi cetak sudah muncul dianggap terlalu modern. Hal serupa dinyatakan oleh Budayawan dan Pemikir Sunda, Ajip Rosidi (2007)keahengan Naskah Wangsakerta menyebabkan ia dituduh palsu, sehingga tidak banyak dijadikan referensi oleh Sejarawan. Namun demikian menurutnya sudah muncul fakta sejarah seperti ditemukannya candi di Rancaekek sebagai bukti akan kebenaran Naskah Wangsakerta.
Memasuki sejarah modern kemerdekaan, penelitian dan penulisan banyak dilakukan oleh ilmuwan dan akademisi Sunda seperti Ajip Rosidi, Edi E. Ekajati, Ajat Rohaedi, Undang A. Darsa, Atja, Saleh Danasasmita, bahkan tidak hanya peneliti dari dalam negeri, peneliti dari luar negeri pun seperti A Teuw, K.F. Holle, J. Noordyn, C.M.. Pleyte, namun tetap saja Sejarah Sunda masih dianggap belum mumpuni untuk eksistensi dirinya dibandingkan dengan sejarah entitas yang lain seperti Jawa.
Kurang kuatnya pesan kesejarahan entitas Sunda tersebut dipandang oleh banyak cendikiawan pemerhati masalah kesundaan dikarenakan kurang kuatnya tradisi literasi, atau tradisi menulis para inohong Sunda jaman baheula. Pengkambinghitaman terhadap kurangnya tradisi literasi ini menjadi pemicu para inohong Sunda untuk melakukan upaya ngaguar sejarah Sunda yang sebenarnya mulai dari penelitian, Konferensi, whorkshop, gerakan penyadaran melaui organisasi, tulisan-tulisan motivatif baik yang positif ataupun negative, antara yang bernada optimis, opsimis sampai optimis.
Walaupun telah dilakukan berbagai upaya oleh para Inohong, peneliti serta budayawan Sunda untuk menyambungkan pesan kesejarahan Sunda yang hilang melalui berbagai kegiatan namun tetap bahan sejarah kesundaan masih dinilai kurang dan tidak memadai untuk mengungkapkan bahwa Sunda memiliki Sejarah yang kuat mulai dari pemikiran (budaya), alam (Kosmologi) atau manusianya itu sendiri.
Upaya mengkomunikasikan sejarah yang terpotong tersebut kini seolah menemukan titik terang setelah beberapa peneliti baik yang telah berkecimpung sebelumnya dan ditambah oleh peneliti muda melakukan penelitian terhadap bahan literasi yang selama ini tersimpan dalam ‘peti mati’ di Perpustakaan Nasional seperti ditulis oleh Atep Kurnia (Kompas Edisi 26 Juni 2010). Tak tanggung-tanggung sebanyak 13 Naskah Sunda Kuno akan diteliti oleh Para Peneliti tersebut, diantara peneliti terdapat Undang A Darsa yang sebelumnya telah melakukan penelitian terhadap Naskah Sunda Kuno Kropak 420, 421 dan 420, swaka darma yang berisi tentang kehidupan Sunda Pra Islam, Sejarah penyebaran Agama Islam, Serta Silsilah Prabu Siliwangi.
Penelitian ke-13 naskah Sunda kuno tersebut memberikan harapan kepada inohong dan cendekiawan Sunda akan sejarah tempatnya berpijak sehingga dapat ngaguar Sejarah Sunda Saujratnasebagaimana yang menjadi keharusan sejarah serta dapat mengkomunikasikan keberadaan Ki Sunda pada masa lalu sebagai bentuk pesan yang menyatakan bahwa Sunda adalah entitas yang kaya akan literasi, baik dari sisi alam, pemikiran dan manusianya sendiri. Bahkan dalam catatannya tersebut yang dikutif dari Aditia masih terdapat 55 naskah Sunda Kuno masih tersimpan dan sama sekali belum diteliti.

Ki Sunda; Bangsa yang sadar Sejarah
 Merujuk pada analisis wacana kritis, kita patut mempertanyakan kenapa kebesaran literasi akan sejarah Kesundaan terkubur begitu saja di perpustakaan dan baru diguar hari ini, bahkan karya sejarah pertama bangsa Sunda, naskah Wangsakerta dianggap sebagai naskah yang terlalu modern dan aheng pada masanya. Hal ini terdapat kaitan antara ideology mainstream yang sedang berkuasa dengan penguburan sejarah Kesundaan agar Sunda tidak boleh muncul ke permukaan. Namun, sebagai Ki Sunda yang selalu terbuka dan toleran, kita tidak boleh berlebihan menanggapi permainan idelogi dan tanda akan pesan penguburan sejarah kesundaan tersebut, karena kesungguhan orang Sunda kiwari akan mengungkapkan kebenaran sejarahnya sendiri sebagai sebuah bentuk kesadaran serta keberanian. Karena sesungguhnya Bangsa Sunda adalah bangsa yang sadar akan pentingnya sejarah, sehingga walaupun sejarah kesundaan dikubur dalam-dalam tetaplah semerbak wanginya akan tercium. Wanginya sejarah ki Sunda terpancar dari banyaknya naskah yang ditulis oleh inohong Sunda baheula.
Bahkan tanda dan pesan komunikasi kesadaran kesejarahan Ki Sunda sudah tertanam sejak ratusan tahun yang lalu, seperti ditulis oleh inohong Sunda yang ditulis dalam naskah Amanat Galunggung yang memberikan gambaran kepada kita bahwa bangsa Sunda adalah bangsa yang memiliki kesadaran sejarah sehingga tidak akan cepat melupakan masa lalunya yang akan memberikan gambaran terhadap masa kini dan masa depannya. Amanat Galunggung tersebut mengatakan;
Hana nguni hana mangke, tan hana nguni tan hana mangke,
aya ma baheula aya tu ayeuna, 
hanteu ma baheula hanteu tu ayeuna, 
hana tunggak hana watang, tan hana tunggak tan hana watang,
hana ma tunggulna aya tu catangna

(Ada dahulu ada sekarang, tidak ada dahulu tidak akan ada sekarang;
ada masa lalu ada masa kini,
bila tidak ada masa lalu tidak ada masa kini,

ada pokok kayu ada batang, tidak ada pokok kayu tidak akan ada batang,
ada tunggulnya tentu ada catangnya)
Jelaslah sekali bahwa pesan Galunggung tersebut menandakan bahwa Ki Sunda memiliki kesadaran sejarah yang sangat tinggi sehingga rasanya tidak masuk akal jika Sejarah Ki Sunda hanya dengan tradisi lisan belaka. Akhirnya ketiga belas Kropak yang akan diteliti oleh peneliti muda dan seniornya tersebut serta ke-55 naskah lainnya yang belum tersentuh, mudah-mudahan memberikan gambaran yang terang tentang sejarah Ki Sunda seperti halnya sejarah daerah lainnya, sehingga bangsa Sunda tidak dipandang sebelah mata baik dari sisi pemikiran/ filsafatnya ataupun manusianya itu sendiri. Hal ini menguatkan amanat budayawan Sunda Kang Ajip bahwa urang Sunda kudu wawuh kana sejarahna.Semoga!


Aria Bagja Wiguna Wiradisastra

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar