Selasa, 17 April 2012

Buletin Bagian KaDua

Bagian II

Lain Dengan Galuh, Nama Kawali Terabadikan Dalam Dua Buah Prasasti Batu Peninggalan Prabu Raja Wastu Yang Tersimpan Di Astana Gede, Kawali. Dalam Prasasti Itu Ditegaskan "Mangadeg Di Kuta Kawali" [ Bertahta Di Kota Kawali ] Dan Keratonnya Disebut Surawisesa Yang Dijelaskan Sebagai "Dalem Sipawindu Hurip" [ Keraton Yang Memberikan Ketenangan Hidup ]. Prabu Raja Wastu Atau Niskala Wastu Kancana Adalah Putera Prabu Maharaja Lingga Buana Yang Gugur Di Medan Bubat Dalam Tahun 1357. Ketika Terjadi Pasunda Bubat, Usia Wastu Kancana Baru 9 Tahun Dan Ia Adalah Satu-Satunya Ahli Waris Kerajaan Yang Hidup Karena Ketiga Kakaknya Meninggal.



Pemerintahan Kemudian Diwakili Oleh Pamannya Mangkubumi Suradipati Atau Prabu Bunisora [ Ada Juga Yang Menyebut Prabu Kuda Lalean, Sedangkan Dalam Babad Panjalu Disebut Prabu Borosngora. Selain Itu Ia Pun Dijuluki Batara Guru Di Jampang Karena Ia Menjadi Pertapa Dan Resi Yang Ulung ]. Mangkubumi Suradipati Dimakamkan Di Geger Omas. Setelah Pemerintahan Di Jalankan Pamannya Yang Sekaligus Juga Mertuanya, Wastu Kancana Dinobatkan Menjadi Raja Di Kerajaan Pajajaran Pada Tahun 1371 Pada Usia 23 Tahun. Permaisurinya Yang Pertama Adalah Lara Sarkati Puteri Lampung. Dari Perkawinan Ini Lahir Sang Haliwungan, Yang Setelah Dinobatkan Menjadi Raja Sunda Bergelar Prabu Susuktunggal. Permaisuri Yang Kedua Adalah Mayangsari Puteri Sulung Bunisora Atau Mangkubumi Suradipati. Dari Perkawinannya Dengan Mayangsari Lahir Ningrat Kancana, Yang Setelah Menjadi Penguasa Galuh Bergelar Prabu Dewa Niskala.

Setelah Wastu Kancana Wafat Tahun 1475, Kerajaan Dipecah Dua Diantara Susuktunggal Dan Dewa Niskala Dalam Kedudukan Sederajat. Politik Kesatuan Wilayah Telah Membuat Jalinan Perkawinan Antar Cucu Wastu Kencana. Jayadewata, Putera Dewa Niskala, Mula-Mula Memperistri Ambetkasih, Puteri Ki Gedeng Sindangkasih, Kemudian Memperistri Subanglarang. Yang Terakhir Ini Adalah Puteri Ki Gedeng Tapa Yang Menjadi Raja Singapura. Subanglarang Ini Keluaran Pesantren Pondok Quro Di Pura, Karawang. Ia Seorang Wanita Muslim Murid Syekh Hasanudin Yang Menganut Mazhab Hanafi. Pesantren Qura Di Karawang Didirikan Tahun 1416 Dalam Masa Pemerintahan Wastu Kancana. Subanglarang Belajar Di Situ Selama Dua Tahun. Ia Adalah Nenek Syarif Hidayatullah. Kemudian Jayadewata Mempersitri Kentring Manik Mayang Sunda Puteri Prabu Susuktunggal. Jadilah Antara Raja Sunda Dan Raja Galuh Yang Seayah Ini Menjadi Besan.

Kejatuhan Prabu Kertabumi [ Brawijaya V ] Raja Majapahit Tahun 1478 Telah Mempengaruhi Jalan Sejarah Di Jawa Barat. Rombongan Pengungsi Dari Kerabat Keraton Majapahit Akhirnya Ada Juga Yang Sampai Di Kawali. Salah Seorang Diantaranya Ialah Raden Baribin Saudara Seayah Prabu Kertabumi. Ia Diterima Dengan Baik Oleh Prabu Dewa Niskala Bahkan Kemudian Dijodohkan Dengan Ratna Ayu Kirana [ Puteri Bungsu Dewa Niskala Dari Salah Seorang Isterinya ], Adik Raden Banyak Cakra [ Kamandaka ] Yang Telah Jadi Raja Daerah Di Pasir Luhur. Disamping Itu Dewa Niskala Sendiri Menikahi Salah Seorang Dari Wanita Pengungsi Yang Kebetulan Telah Bertunangan. Dalam Carita Parahiyangan Disebutkan "Estri Larangan Ti Kaluaran". Sejak Peristiwa Bubat, Kerabat Keraton Kawali Ditabukan Berjodoh Dengan Kerabat Keraton Majapahit. Selain Itu, Menurut "Perundang-Undangan" Waktu Itu, Seorang Wanita Yang Bertunangan Tidak Boleh Menikah Dengan Laki-Laki Lain Kecuali Bila Tunangannya Meninggal Dunia Atau Membatalkan Pertunangan.

Dengan Demikian, Dewa Niskala Telah Melanggar Dua Peraturan Sekaligus Dan Dianggap Berdosa Besar Sebagai Raja. Kehebohan Pun Tak Terelakkan. Susuktunggal [ Raja Sunda Yang Juga Besan Dewa Niskala ] Mengancam Memutuskan Hubungan Dengan Kawali. Namun, Kericuhan Dapat Dicegah Dengan Keputusan, Bahwa Kedua Raja Yang Berselisih Itu Bersama-Sama Mengundurkan Diri. Akhirnya Prabu Dewa Niskala Menyerahkan Tahta Kerajaan Galuh Kepada Puteranya Jayadewata. Demikian Pula Dengan Prabu Susuktungal Yang Menyerahkan Tahta Kerajaan Sunda Kepada Menantunya Ini [ Jayadewata ]. Dengan Peristiwa Yang Terjadi Tahun 1482 Itu, Kerajaan Warisan Wastu Kencana Berada Kembali Dalam Satu Tangan. Jayadewata Memutuskan Untuk Berkedudukan Di Pakuan Sebagai "Susuhunan" Karena Ia Telah Lama Tinggal Di Sini Menjalankan Pemerintahan Sehari-Hari Mewakili Mertuanya. Sekali Lagi Pakuan Menjadi Pusat Pemerintahan.

Masa Pemerintahan Kerajaan Pajajaran Diawali Oleh Pemerintahan Sri Baduga Maharaja [ Ratu Jayadewata ] Yang Memerintah Selama 39 Thn [ 1482 - 1521 ]. Pada Masa Inilah Pakuan Mencapai Puncak Perkembangannya. Dalam Prasasti Batutulis Diberitakan Bahwa Sri Baduga Dinobatkan Dua Kali, Yaitu Yang Pertama Ketika Jayadewata Menerima Tahta Galuh Dari Ayahnya [ Prabu Dewa Niskala ] Yang Kemudian Bergelar Prabu Guru Dewapranata. Yang Kedua Ketika Ia Menerima Tahta Kerajaan Sunda Dari Mertuanya, Susuktunggal. Dengan Peristiwa Ini, Ia Menjadi Penguasa Sunda-Galuh Dan Dinobatkan Dengar Gelar Sri Baduga Maharaja Ratu Haji Di Pakuan Kerajaan Pajajaran Sri Sang Ratu Dewata. Jadi Sekali Lagi Dan Untuk Terakhir Kalinya, Setelah "Sepi" Selama 149 Tahun, Jawa Barat Kembali Menyaksikan Iring-Iringan Rombongan Raja Yang Berpindah Tempat Dari Timur Ke Barat.

Di Jawa Barat Sri Baduga Ini Lebih Dikenal Dengan Nama Prabu Siliwangi. Nama Siliwangi Sudah Tercatat Dalam Kropak 630 Sebagai Lakon Pantun. Naskah Itu Ditulis Tahun 1518 Ketika Sri Baduga Masih Hidup. Lakon Prabu Siliwangi Dalam Berbagai Versinya Berintikan Kisah Tokoh Ini Menjadi Raja Di Pakuan. Peristiwa Itu Dari Segi Sejarah Berarti Saat Sri Baduga Mempunyai Kekuasaan Yang Sama Besarnya Dengan Wastu Kancana [ Kakeknya ] Alias Prabu Wangi [ Menurut Pandangan Para Pujangga Sunda ].

Menurut Tradisi Lama. Orang Segan Atau Tidak Boleh Menyebut Gelar Raja Yang Sesungguhnya, Maka Juru Pantun Mempopulerkan Sebutan Siliwangi. Dengan Nama Itulah Ia Dikenal Dalam Literatur Sunda. Wangsakerta Pun Mengungkapkan Bahwa Siliwangi Bukan Nama Pribadi, Ia Menulis:
"Kawalya Ta Wwang Sunda Lawan Ika Wwang Carbon Mwang Sakweh Ira Wwang Jawa Kulwan Anyebuta Prabhu Siliwangi Raja Kerajaan Pajajaran. Dadyeka Dudu Ngaran Swaraga Nira".
[ Hanya Orang Sunda Dan Orang Cirebon Serta Semua Orang Jawa Barat Yang Menyebut Prabu Siliwangi Raja Kerajaan Pajajaran. Jadi Nama Itu Bukan Nama Pribadinya ].

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar