Selasa, 17 April 2012

Buletin Bagian KaGenep

Bagian VI

Barros Menyebut Fadillah Dengan Faletehan. Ini Barangkali Lafal Orang Portugis Untuk Fadillah Khan. Tome Pinto Menyebutnya Tagaril Untuk Ki Fadil [ Julukan Fadillah Khan Sehari-Hari ]. Kretabhumi I/2 Menyebutkan, Bahwa Makam Fadillah Khan [ Disebut Juga Wong Agung Pase ] Terletak Di Puncak Gunung Sembung Berdampingan [ Di Sebelah Timurnya ] Dengan Makam Susushunan Jati. Hoesein Djajaningrat [ 1913 ] Menganggap Fadillah Identik Dengan Susuhunan Jati. Nama Fadillah Sendiri Baru Muncul Dalam Buku Sejarah Indonesia Susunan Sanusi Pane [ 1950 ]. Carita Parahiyangan Menyebut Fadillah Dengan Arya Burah. Pasukan Fadillah Yang Merupakan Gabungan Pasukan Demak-Cirebon Berjumlah 1967 Orang. Sasaran Pertama Adalah Banten, Pintu Masuk Selat Sunda.



Kedatangan Pasukan Ini Telah Didahului Dengan Huru-Hara Di Banten Yang Ditimbulkan Oleh Pangeran Hasanudin Dan Para Pengikutnya. Kedatangan Pasukan Fadillah Menyebabkan Pasukan Banten Terdesak. Bupati Banten Beserta Keluarga Dan Pembesar Keratonnya Mengungsi Ke Ibukota Pakuan. Hasanudin Kemudian Diangkat Oleh Ayahnya [ Susuhunan Jati ], Menjadi Bupati Banten [ 1526 ]. Setahun Kemudian, Fadillah Bersama 1452 Orang Pasukannya Menyerang Dan Merebut Pelabuhan Kalapa. Bupati Kalapa Bersama Keluarga Dan Para Menteri Kerajaan Yang Bertugas Di Pelabuhan Gugur. Pasukan Bantuan Dari Pakuan Pun Dapat Dipukul Mundur. Keunggulan Pasukan Fadillah Terletak Pada Penggunaan Meriam Yang Justru Tidak Dimiliki Oleh Laskar Kerajaan Pajajaran.

Bantuan Portugis Datang Terlambat Karena Francisco De Sa Yang Ditugasi Membangun Benteng Diangkat Menjadi Gubernur Goa Di India. Keberangkatan Ke Sunda Dipersiapkan Dari Goa Dengan 6 Buah Kapal. Galiun Yang Dinaiki De Sa Dan Berisi Peralatan Untuk Membangun Benteng Terpaksa Ditinggalkan Karena Armada Ini Diterpa Badai Di Teluk Benggala. De Sa Tiba Di Malaka Tahun 1527. Ekspedsi Ke Sunda Bertolak Dari Malaka. Mula-Mula Menuju Banten, Akan Tetapi Karena Banten Sudah Dikuasai Hasanudin, Perjalanan Dilanjutkan Ke Pelabuhan Kalapa. Di Muara Cisadane, De Sa Memancangkan Padrao Pada Tanggal 30 Juni 1527 Dan Memberikan Nama Kepada Cisadane "Rio De Sa Jorge".

Kemudian Galiun De Sa Memisahkan Diri. Hanya Kapal Brigantin [ Dipimpin Duarte Coelho ] Yang Langsung Ke Pelabuhan Kalapa. Coelho Terlambat Mengetahui Perubahan Situasi, Kapalnya Menepi Terlalu Dekat Ke Pantai Dan Menjadi Mangsa Sergapan Pasukan Fadillah. Dengan Kerusakan Yang Berat Dan Korban Yang Banyak, Kapal Portugis Ini Berhasil Meloloskan Diri Ke Pasai. Tahun 1529 Portugis Menyiapkan 8 Buah Kapal Untuk Melakukan Serangan Balasan, Akan Tetapi Karena Peristiwa 1527 Yang Menimpa Pasukan Coelho Demikian Menakutkan, Maka Tujuan Armada Lalu Di Ubah Menuju Pedu.

Setelah Sri Baduga Wafat, Kerajaan Pajajaran Dengan Cirebon Berada Pada Generasi Yang Sejajar. Meskipun Yang Berkuasa Di Cirebon Syarif Hidayat, Tetapi Dibelakangnya Berdiri Pangeran Cakrabuana [ Walasungsang Atau Bernama Pula Haji Abdullah Iman ]. Cakrabuana Adalah Kakak Seayah Prabu Surawisesa. Dengan Demikian, Keengganan Cirebon Menjamah Pelabuhan Atau Wilayah Lain Di Kerajaan Pajajaran Menjadi Hilang. Meskipun, Cirebon Sendiri Sebenarnya Relatif Lemah. Akan Tetapi Berkat Dukungan Demak, Kedudukannya Menjadi Mantap. Setelah Kedudukan Demak Goyah Akibat Kegagalan Serbuannya Ke Pasuruan Dan Panarukan [ Bahkan Sultan Trenggana Terbunuh ], Kemudian Disusul Dengan Perang Perebutan Tahta, Maka Cirebon Pun Turut Menjadi Goyah Pula. Hal Inilah Yang Menyebabkan Kedudukan Cirebon Terdesak Dan Bahkan Terlampaui Oleh Banten Di Kemudian Hari.

Perang Cirebon - Kerajaan Pajajaran Berlangsung 5 Tahun Lamanya. Yang Satu Tidak Berani Naik Ke Darat, Yang Satunya Lagi Tak Berani Turun Ke Laut. Cirebon Dan Demak Hanya Berhasil Menguasai Kota-Kota Pelabuhan. Hanya Di Bagian Timur Pasukan Cirebon Bergerak Lebih Jauh Ke Selatan. Pertempuran Dengan Galuh Terjadi Tahun 1528. Di Sini Pun Terlihat Peran Demak Karena Kemenangan Cirebon Terjadi Berkat Bantuan Pasukan Meriam Demak Tepat Pada Saat Pasukan Cirebon Terdesak Mundur. Laskar Galuh Tidak Berdaya Menghadapi "Panah Besi Yang Besar Yang Menyemburkan Kukus Ireng Dan Bersuara Seperti Guntur Serta Memuntahkan Logam Panas". Tombak Dan Anak Panah Mereka Lumpuh Karena Meriam. Maka Jatuhlah Galuh. Dua Tahun Kemudian Jatuh Pula Kerajaan Talaga, Benteng Terakhir Kerajaan Galuh.

Sumedang Masuk Ke Dalam Lingkaran Pengaruh Cirebon Dengan Dinobatkannya Pangeran Santri Menjadi Bupati Sumedang Pada Tanggal 21 Oktober 1530. Pangeran Santri Adalah Cucu Pangeran Panjunan, Kakak Ipar Syarif Hidayat. Buyut Pangeran Santri Adalah Syekh Datuk Kahfi Pendiri Pesantren Pertama Di Cirebon. Ia Menjadi Bupati Karena Pernikahannya Dengan Satyasih, Pucuk Umum [ Unun? ] Sumedang. Secara Tidak Resmi Sumedang Menjadi Daerah Cirebon. Dengan Kedudukan Yang Mantap Di Timur Citarum, Cirebon Merasa Kedudukannya Mapan. Selain Itu, Karena Gerakan Ke Pakuan Selalu Dapat Dibendung Oleh Pasukan Surawisesa, Maka Kedua Pihak Mengambil Jalan Terbaik Dengan Berdamai Dan Mengakui Kedudukan Masing-Masing. Tahun 1531 Tercapai Perdamaian Antara Surawisesa Dan Syarif Hidayat. Masing-Masing Pihak Berdiri Sebagai Negara Merdeka. Di Pihak Cirebon, Ikut Menandatangani Naskah Perjanjian, Pangeran Pasarean [ Putera Mahkota Cirebon ], Fadillah Khan Dan Hasanudin [ Bupati Banten ].

Perjanjian Damai Dengan Cirebon Memberikan Peluang Kepada Surawisesa Untuk Mengurus Dalam Negerinya. Setelah Berhasil Memadamkan Beberapa Pemberontakkan, Ia Berkesempatan Menerawang Situasi Dirinya Dan Kerajaannya. Warisan Dari Ayahnya Hanya Tinggal Setengahnya, Itupun Tanpa Pelabuhan Pantai Utara Yang Pernah Memperkaya Kerajaan Pajajaran Dengan Lautnya. Dengan Dukungan 1.000 Orang Pasukan Belamati Yang Setia Kepadanyalah, Ia Masih Mampu Mempertahankan Daerah Inti Kerajaannya.

Dalam Suasana Seperti Itulah Ia Mengenang Kebesaran Ayahandanya. Perjanjian Damai Dengan Cirebon Memberi Kesempatan Kepadanya Untuk Menunjukkan Rasa Hormat Terhadap Mendiang Ayahnya. Mungkin Juga Sekaligus Menunjukkan Penyesalannya Karena Ia Tidak Mampu Mempertahankan Keutuhan Wilayah Pakuan Kerajaan Pajajaran Yang Diamanatkan Kepadanya. Dalam Tahun 1533, Tepat 12 Tahun Setelah Ayahnya Wafat, Ia Membuat Sasakala [ Tanda Peringatan ] Buat Ayahnya. Ditampilkannya Di Situ Karya-Karya Besar Yang Telah Dilakukan Oleh Susuhunan Kerajaan Pajajaran. Itulah Prasasati Batutulis Yang Diletakkannya Di Kabuyutan Tempat Tanda Kekuasaan Sri Baduga Yang Berupa Lingga Batu Ditanamkan. Penempatannya Sedemikian Rupa Sehingga Kedudukan Antara Anak Dengan Ayah Amat Mudah Terlihat. Si Anak Ingin Agar Apa Yang Dipujikan Tentang Ayahnya Dengan Mudah Dapat Diketahui [ Dibaca ] Orang. Ia Sendiri Tidak Berani Berdiri Sejajar Dengan Si Ayah. Demikianlah, Batutulis Itu Diletakkan Agak Ke Belakang Di Samping Kiri Lingga Batu.

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar