Selasa, 17 April 2012

Buletin Bagian KaTilu

Bagian III

Waktu Mudanya Sri Baduga Terkenal Sebagai Kesatria Pemberani Dan Tangkas Bahkan Satu-Satunya Yang Pernah Mengalahkan Ratu Japura [ Amuk Murugul ] Waktu Bersaing Memperbutkan Subanglarang [ Istri Kedua Prabu Siliwangi Yang Beragama Islam ]. Dalam Berbagai Hal, Orang Sejamannya Teringat Kepada Kebesaran Mendiang Buyutnya [ Prabu Maharaja Lingga Buana ] Yang Gugur Di Bubat Yang Digelari Prabu Wangi. Pustaka Rajyarajya I Bhumi Nusantara II/2 Mengungkapkan Bahwa Orang Sunda Menganggap Sri Baduga Sebagai Pengganti Prabu Wangi, Sebagai Silih Yang Telah Hilang. Naskahnya Berisi Sebagai Berikut [ Artinya Saja ]:

"Di Medan Perang Bubat Ia Banyak Membinasakan Musuhnya Karena Prabu Maharaja Sangat Menguasai Ilmu Senjata Dan Mahir Berperang, Tidak Mau Negaranya Diperintah Dan Dijajah Orang Lain."
Ia Berani Menghadapi Pasukan Besar Majapahit Yang Dipimpin Oleh Sang Patih Gajah Mada Yang Jumlahnya Tidak Terhitung. Oleh Karena Itu, Ia Bersama Semua Pengiringnya Gugur Tidak Tersisa. Ia Senantiasa Mengharapkan Kemakmuran Dan Kesejahteraan Hidup Rakyatnya Di Seluruh Bumi Jawa Barat. Kemashurannya Sampai Kepada Beberapa Negara Di Pulau-Pulau Dwipantara Atau Nusantara Namanya Yang Lain. Kemashuran Sang Prabu Maharaja Membangkitkan [ Rasa Bangga Kepada ] Keluarga, Menteri-Menteri Kerajaan, Angkatan Perang Dan Rakyat Jawa Barat. Oleh Karena Itu Nama Prabu Maharaja Mewangi. Selanjutnya Ia Di Sebut Prabu Wangi. Dan Keturunannya Lalu Disebut Dengan Nama Prabu Siliwangi. Demikianlah Menurut Penuturan Orang Sunda.



Kesenjangan Antara Pendapat Orang Sunda Dengan Kenyataan Sejarah Seperti Yang Diungkapkan Di Atas Mudah Dijajagi. Pangeran Wangsakerta, Penanggung Jawab Penyusunan Sejarah Nusantara, Menganggap Bahwa Tokoh Prabu Wangi Adalah Maharaja Linggabuana Yang Gugur Di Bubat, Sedangkan Penggantinya [ "Silih"Nya ] Bukan Sri Baduga Melainkan Wastu Kancana [ Kakek Sri Baduga, Yang Menurut Naskah Wastu Kancana Disebut Juga Prabu Wangisutah ]. Orang Sunda Tidak Memperhatikan Perbedaan Ini Sehingga Menganggap Prabu Siliwangi Sebagai Putera Wastu Kancana [ Prabu Anggalarang ]. Tetapi Dalam Carita Parahiyangan Disebutkan Bahwa Niskala Wastu Kancana Itu Adalah "Seuweu" Prabu Wangi. Mengapa Dewa Niskala [ Ayah Sri Baduga ] Dilewat? Ini Disebabkan Dewa Niskala Hanya Menjadi Penguasa Galuh. Dalam Hubungan Ini Tokoh Sri Baduga Memang Penerus "Langsung" Dari Wastu Kancana. Menurut Pustaka Rajyarajya I Bhumi Nusantara II/4, Ayah Dan Mertua Sri Baduga [ Dewa Niskala Dan Susuktunggal ] Hanya Bergelar Prabu, Sedangkan Jayadewata Bergelar Maharaja [ Sama Seperti Kakeknya Wastu Kancana Sebagai Penguasa Sunda-Galuh ].

Dengan Demikian, Seperti Diutarakan Amir Sutaarga [ 1965 ], Sri Baduga Itu Dianggap Sebagai "Silih" [ Pengganti ] Prabu Wangi Wastu Kancana [ Oleh Pangeran Wangsakerta Disebut Prabu Wangisutah ]. "Silih" Dalam Pengertian Kekuasaan Ini Oleh Para Pujangga Babad Yang Kemudian Ditanggapi Sebagai Pergantian Generasi Langsung Dari Ayah Kepada Anak Sehingga Prabu Siliwangi Dianggap Putera Wastu Kancana. Riwayat Perang Bubat Itu Sendiri :
"Perang Antara Kerajaan Majapahit Dan Kerajaan Sunda Itu Terjadi Di Desa Bubat. Perang Ini Dipicu Oleh Ambisi Maha Patih Gajah Mada Yang Ingin Menguasai Kerajaan Sunda. Pada Saat Itu Sebenarnya Antara Kerajaan Sunda Dan Majapahit Sedang Dibangun Ikatan Persaudaraan, Yaitu Dengan Menjodohkan Dyah Pitaloka Dengan Maharaja Hayam Wuruk. Rombongan Kerajaan Sunda Ini Di Gempur Oleh Pasukan Mahapatih Gajah Mada Yang Menyebabkan Semua Pasukan Kerajaan Sunda Yang Ikut Rombongan Punah. Akibat Perang Bubat Inipula, Maka Hubungan Antara Mahapatih Gajah Mada Dan Maharaja Hayam Wuruk Menjadi Renggang".

Catatan Yang Bisa Dijadikan Rujukan Adalah Guguritan Sunda, Yang Mengisahkan Gejolak Sosial Dan Pecahnya Perang Di Desa Bubat Antara Kerajaan Majapahit Dengan Kerajaan Sunda Dan Gugurnya Mahapatih Gajah Mada Secara Misterius. Alih Bahasa Oleh I Wayan Sutedja [ Sepertinya Pustaka Aslinya Ditulis Dalam Bahasa Bali, 1995. Dan Bagi Yang Tinggal Di Amerika, Pustaka Ini Bisa Dipinjam Di Ohio University. Kepindahan Isteri Ratu Pakuan [ Sri Baduga ] Ke Pakuan Terekam Oleh Pujangga Bernama Kai Raga Di Gunung Srimanganti [ Sikuray ]. Naskahnya Ditulis Dalam A Pantun Dan Dinamai Carita Ratu Pakuan, Yang Diperkirakan Ditulis Pada Akhir Abad Ke-17 Atau Awal Abad Ke-18. Naskah Itu Dapat Ditemukan Pada Koropak 410 . Terjemahannya Adalah Sebagai Berikut :

Tersebutlah Ngabetkasih Bersama Madu-Madunya Bergerak Payung Lebesaran Melintas Tugu Yang Seia Dan Sekata Hendak Pulang Ke Pakuan Kembali Dari Keraton Di Timur Halaman Cahaya Putih Induk Permata Cahaya Datar Namanya Keraton Berseri Emas Permata Rumah Berukir Lukisan Alun Di Sanghiyang Pandan-Larang Keraton Penenang Hidup.

Bergerak Barisan Depan Disusul Yang Kemudian Teduh Dalam Ikatan Dijunjung Bakul Kue Dengan Tutup Yang Diukir Kotak Jati Bersudut Bulatan Emas Tempat Sirih Nampan Perak Bertiang Gading Ukiran Telapak Gajah Hendak Dibawa Ke Pakuan.

Bergerak Tandu Kencana Beratap Cemara Gading Bertiang Emas Bernama Lingkaran Langit Berpuncak Permata Indah Ditatahkan Pada Watang Yang Bercungap Singa-Singaan Di Sebelah Kiri-Kanan Payung Hijau Bertiang Gading Berpuncak Getas Yang Bertiang Berpuncak Emas Dan Payung Saberilen Berumbai Potongan Benang Tapok Terongnya Emas Berlekuk Berayun Panjang Langkahnya Terkedip Sambil Menoleh Ibarat Semut, Rukun Dengan Saudaranya Tingkahnya Seperti Semut Beralih.

Bergerak Seperti Pematang Cahaya Melayang-Layang Berlenggang Di Awang-Awang Pembawa Gendi Di Belakang Pembawa Kandaga Di Depan Dan Ayam-Ayaman Emas Kiri-Kanan Kidang-Kidangan Emas Di Tengah Siapa Diusun Di Singa Barong.

Bergerak Yang Di Depan, Menyusul Yang Kemudian Barisan Yang Lain Lagi.

Kisah Dalam Pantun Itu Adalah Ngabetkasih [ Ambetkasih ], Isteri Sri Baduga Yang Pertama [ Puteri Ki Gedeng Sindang Kasih, Putera Wastu Kancana Ketiga Dari Mayangsari ]. Ia Pindah Dari Keraton Timur [ Galuh ] Ke Pakuan Bersama Isteri-Isteri Sri Baduga Yang Lain. Tindakan Pertama Yang Diambil Oleh Sri Baduga Setelah Resmi Dinobatkan Jadi Raja Adalah Menunaikan Amanat Dari Kakeknya [ Wastu Kancana ] Yang Disampaikan Melalui Ayahnya [ Ningrat Kancana ] Ketika Ia Masih Menjadi Mangkubumi Di Kawali. Isi Pesan Ini Bisa Ditemukan Pada Salah Satu Prasasti Peninggalan Sri Baduga Di Kebantenan. Terjemahannya Adalah Sebagai Berikut :

Semoga Selamat. Ini Tanda Peringatan Bagi Rahyang Niskala Wastu Kancana. Turun Kepada Rahyang Ningrat Kancana, Maka Selanjutnya Kepada Susuhunan Sekarang Di Pakuan Kerajaan Pajajaran. Harus Menitipkan Ibukota Di Jayagiri Dan Ibukota Di Sunda Sembawa.

Semoga Ada Yang Mengurusnya. Jangan Memberatkannya Dengan "Dasa", "Calagra", "Kapas Timbang", Dan "Pare Dongdang".

Maka Diperintahkan Kepada Para Petugas Muara Agar Jangan Memungut Bea. Karena Merekalah Yang Selalu Berbakti Dan Membaktikan Diri Kepada Ajaran-Ajaran. Merekalah Yang Tegas Mengamalkan Peraturan Dewa.

Dengan Tegas Di Sini Disebut "Dayeuhan" [ Ibukota ] Di Jayagiri Dan Sunda Sembawa. Penduduk Kedua Dayeuh Ini Dibebaskan Dari 4 Macam Pajak, Yaitu "Dasa" [ Pajak Tenaga Perorangan ], "Calagra" [ Pajak Tenaga Kolektif ], "Kapas Timbang" [ Kapas 10 Pikul ] Dan "Pare Dondang" [ Padi 1 Gotongan ]. Dalam Kropak 630, Urutan Pajak Tersebut Adalah Dasa, Calagra, "Upeti", "Panggeureus Reuma". Dalam Koropak 406 Disebutkan Bahwa Dari Daerah Kandang Wesi [ Sekarang Bungbulang, Garut ] Harus Membawa "Kapas Sapuluh Carangka" [ 10 Carangka = 10 Pikul = 1 Timbang Atau Menurut Coolsma, 1 Caeng Timbang ] Sebagai Upeti Ke Pakuan Tiap Tahun. Kapas Termasuk Upeti. Jadi Tidak Dikenakan Kepada Rakyat Secara Perorangan, Melainkan Kepada Penguasa Setempat. "Pare Dondang" Disebut "Panggeres Reuma".

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar