Hirup manusamah teu bisa sorangan,,tanggtu butuh batur pikeun pakumaha... tah ku eta hal hayu Baraya Sunda Sadulur sadaya urang bantu papada urang jeung urang ku jalan saling tulung tinulungan. Rempug jukung sauyunan dina nyukseskeun programna BSS anu seja babakti ka papada jalmi Dina acara Baksos pengobatan masal di Desa Malingping Majalaya.
Tampilkan postingan dengan label umum. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label umum. Tampilkan semua postingan
Selasa, 15 Mei 2012
Jumat, 20 April 2012
Selasa, 17 April 2012
Lilin ...
ketika kita ditanya untuk apa LILIN ?,,, yang umum dan terPIKIR oleh kita adalah keadaan GELAP tanpa Cahaya, dimana kita bisa menggunakannya untuk penerang/menerangi ruangan.
ada sangkaan miring tentang LILIN itu sendiri ketika LILIN dengan tuduhannya, bahwa “dia” hanya bisa menerangi yang lain, tetapi tidak untuk dirinya sendiri yang gelap gulita !
padahal tidak demikian,,, itu hanya prasangka bagi yang melihat keberadaan Cahaya yang dikeluarkan oleh LILIN tersebut. padahal dengan keluarnya cahaya dari LILIN itu, dia bisa melihat dan mengawasi yang ada disekitarnya, tetapi,,, penglihatannya malah berbalik mengomentari si LILIN yang telah memberikan penerangan pada dirinya
Buletin Bagian KaDalapan
Bagian VIII
Raja Kerajaan Pajajaran Keempat Adalah Ratu Sakti [ 1543 - 1551 ]. Untuk Mengatasi Keadaan Yang Ditinggalkan Ratu Dewata Yang Bertindak Serba Alim, Ia Bersikap Keras Bahkan Akhirnya Kejam Dan Lalim. Dengan Pendek Carita Parahiyangan Melukiskan Raja Ini. Banyak Rakyat Dihukum Mati Tanpa Diteliti Lebih Dahulu Salah Tidaknya. Harta Benda Rakyat Dirampas Untuk Kepentingan Keraton Tanpa Rasa Malu Sama Sekali. Kemudian Raja Ini Melakukan Pelanggaran Yang Sama Dengan Dewa Niskala Yaitu Mengawini "Estri Larangan Ti Kaluaran" [ Wanita Pengungsi Yang Sudah Bertunangan ]. Masih Ditambah Lagi Dengan Berbuat Skandal Terhadap Ibu Tirinya Yaitu Bekas Para Selir Ayahnya. Karena Itu Ia Diturunkan Dari Tahta Kerajaan. Ia Hanya Beruntung Karena Waktu Itu Sebagian Besar Pasukan Hasanuddin Dan Fadillah Sedang Membantu Sultan Trenggana Menyerbu Pasurua Dan Panarukan. Setelah Meninggal, Ratu Sakti Dipusarakan Di Pengpelengan.
Raja Kerajaan Pajajaran Keempat Adalah Ratu Sakti [ 1543 - 1551 ]. Untuk Mengatasi Keadaan Yang Ditinggalkan Ratu Dewata Yang Bertindak Serba Alim, Ia Bersikap Keras Bahkan Akhirnya Kejam Dan Lalim. Dengan Pendek Carita Parahiyangan Melukiskan Raja Ini. Banyak Rakyat Dihukum Mati Tanpa Diteliti Lebih Dahulu Salah Tidaknya. Harta Benda Rakyat Dirampas Untuk Kepentingan Keraton Tanpa Rasa Malu Sama Sekali. Kemudian Raja Ini Melakukan Pelanggaran Yang Sama Dengan Dewa Niskala Yaitu Mengawini "Estri Larangan Ti Kaluaran" [ Wanita Pengungsi Yang Sudah Bertunangan ]. Masih Ditambah Lagi Dengan Berbuat Skandal Terhadap Ibu Tirinya Yaitu Bekas Para Selir Ayahnya. Karena Itu Ia Diturunkan Dari Tahta Kerajaan. Ia Hanya Beruntung Karena Waktu Itu Sebagian Besar Pasukan Hasanuddin Dan Fadillah Sedang Membantu Sultan Trenggana Menyerbu Pasurua Dan Panarukan. Setelah Meninggal, Ratu Sakti Dipusarakan Di Pengpelengan.
Buletin Bagian KaTujuh
Bagian VII
Surawisesa Tidak Menampilkan Namanya Dalam Prasasti. Ia Hanya Meletakkan Dua Buah Batu Di Depan Prasasti Itu. Satu Berisi Astatala Ukiran Jejak Tangan, Yang Lainnya Berisi Padatala Ukiran Jejak Kaki. Mungkin Pemasangan Batutulis Itu Bertepatan Dengan Upacara Srada Yaitu "Penyempurnaan Sukma" Yang Dilakukan Setelah 12 Tahun Seorang Raja Wafat. Dengan Upacara Itu, Sukma Orang Yang Meninggal Dianggap Telah Lepas Hubungannya Dengan Dunia Materi. Surawisesa Dalam Kisah Tradisional Lebih Dikenal Dengan Sebutan Guru Gantangan Atau Munding Laya Dikusuma. Permaisurinya, Kinawati, Berasal Dari Kerajaan Tanjung Barat Yang Terletak Di Daerah Pasar Minggu, Jakarta Selatan, Sekarang. Kinawati Adalah Puteri Mental Buana, Cicit Munding Kawati Yang Kesemuanya Penguasa Di Tanjung Barat.
Surawisesa Tidak Menampilkan Namanya Dalam Prasasti. Ia Hanya Meletakkan Dua Buah Batu Di Depan Prasasti Itu. Satu Berisi Astatala Ukiran Jejak Tangan, Yang Lainnya Berisi Padatala Ukiran Jejak Kaki. Mungkin Pemasangan Batutulis Itu Bertepatan Dengan Upacara Srada Yaitu "Penyempurnaan Sukma" Yang Dilakukan Setelah 12 Tahun Seorang Raja Wafat. Dengan Upacara Itu, Sukma Orang Yang Meninggal Dianggap Telah Lepas Hubungannya Dengan Dunia Materi. Surawisesa Dalam Kisah Tradisional Lebih Dikenal Dengan Sebutan Guru Gantangan Atau Munding Laya Dikusuma. Permaisurinya, Kinawati, Berasal Dari Kerajaan Tanjung Barat Yang Terletak Di Daerah Pasar Minggu, Jakarta Selatan, Sekarang. Kinawati Adalah Puteri Mental Buana, Cicit Munding Kawati Yang Kesemuanya Penguasa Di Tanjung Barat.
Buletin Bagian KaGenep
Bagian VI
Barros Menyebut Fadillah Dengan Faletehan. Ini Barangkali Lafal Orang Portugis Untuk Fadillah Khan. Tome Pinto Menyebutnya Tagaril Untuk Ki Fadil [ Julukan Fadillah Khan Sehari-Hari ]. Kretabhumi I/2 Menyebutkan, Bahwa Makam Fadillah Khan [ Disebut Juga Wong Agung Pase ] Terletak Di Puncak Gunung Sembung Berdampingan [ Di Sebelah Timurnya ] Dengan Makam Susushunan Jati. Hoesein Djajaningrat [ 1913 ] Menganggap Fadillah Identik Dengan Susuhunan Jati. Nama Fadillah Sendiri Baru Muncul Dalam Buku Sejarah Indonesia Susunan Sanusi Pane [ 1950 ]. Carita Parahiyangan Menyebut Fadillah Dengan Arya Burah. Pasukan Fadillah Yang Merupakan Gabungan Pasukan Demak-Cirebon Berjumlah 1967 Orang. Sasaran Pertama Adalah Banten, Pintu Masuk Selat Sunda.
Barros Menyebut Fadillah Dengan Faletehan. Ini Barangkali Lafal Orang Portugis Untuk Fadillah Khan. Tome Pinto Menyebutnya Tagaril Untuk Ki Fadil [ Julukan Fadillah Khan Sehari-Hari ]. Kretabhumi I/2 Menyebutkan, Bahwa Makam Fadillah Khan [ Disebut Juga Wong Agung Pase ] Terletak Di Puncak Gunung Sembung Berdampingan [ Di Sebelah Timurnya ] Dengan Makam Susushunan Jati. Hoesein Djajaningrat [ 1913 ] Menganggap Fadillah Identik Dengan Susuhunan Jati. Nama Fadillah Sendiri Baru Muncul Dalam Buku Sejarah Indonesia Susunan Sanusi Pane [ 1950 ]. Carita Parahiyangan Menyebut Fadillah Dengan Arya Burah. Pasukan Fadillah Yang Merupakan Gabungan Pasukan Demak-Cirebon Berjumlah 1967 Orang. Sasaran Pertama Adalah Banten, Pintu Masuk Selat Sunda.
Buletin Bagian KaLima
Bagian V
Karena Permusuhan Tidak Berlanjut Ke Arah Pertumpahan Darah, Maka Masing Masing Pihak Dapat Mengembangkan Keadaan Dalam Negerinya. Demikianlah Pemerintahan Sri Baduga Dilukiskan Sebagai Jaman Kesejahteraan [ Carita Parahiyangan ]. Tome Pires Ikut Mencatat Kemajuan Jaman Sri Baduga Dengan Komentar "The Kingdom Of Sunda Is Justly Governed; They Are True Men" [ Kerajaan Sunda Diperintah Dengan Adil; Mereka Adalah Orang-Orang Jujur ]. Juga Diberitakan Kegiatan Perdagangan Sunda Dengan Malaka Sampai Ke Kepulauan Maladewa [ Maladiven ]. Jumlah Merica Bisa Mencapai 1000 Bahar [ 1 Bahar = 3 Pikul ] Setahun, Bahkan Hasil Tammarin [ Asem ] Dikatakannya Cukup Untuk Mengisi Muatan 1000 Kapal.
Karena Permusuhan Tidak Berlanjut Ke Arah Pertumpahan Darah, Maka Masing Masing Pihak Dapat Mengembangkan Keadaan Dalam Negerinya. Demikianlah Pemerintahan Sri Baduga Dilukiskan Sebagai Jaman Kesejahteraan [ Carita Parahiyangan ]. Tome Pires Ikut Mencatat Kemajuan Jaman Sri Baduga Dengan Komentar "The Kingdom Of Sunda Is Justly Governed; They Are True Men" [ Kerajaan Sunda Diperintah Dengan Adil; Mereka Adalah Orang-Orang Jujur ]. Juga Diberitakan Kegiatan Perdagangan Sunda Dengan Malaka Sampai Ke Kepulauan Maladewa [ Maladiven ]. Jumlah Merica Bisa Mencapai 1000 Bahar [ 1 Bahar = 3 Pikul ] Setahun, Bahkan Hasil Tammarin [ Asem ] Dikatakannya Cukup Untuk Mengisi Muatan 1000 Kapal.
Buletin Bagian KaOpat
Bagian IV
Panggeres Adalah Hasil Lebih Atau Hasil Cuma-Cuma Tanpa Usaha. Reuma Adalah Bekas Ladang. Jadi, Padi Yang Tumbuh Terlambat [ Turiang ] Di Bekas Ladang Setelah Dipanen Dan Kemudian Ditinggalkan Karena Petani Membuka Ladang Baru, Menjadi Hak Raja Atau Penguasa Setempat [ Tohaan ]. Dongdang Adalah Alat Pikul Seperti "Tempat Tidur" Persegi Empat Yang Diberi Tali Atau Tangkai Berlubang Untuk Memasukan Pikulan. Dondang Harus Selalu Digotong. Karena Bertali Atau Bertangkai, Waktu Digotong Selalu Berayun Sehingga Disebut "Dondang" [ Berayun ]. Dondang Pun Khusus Dipakai Untuk Membawa Barang Antaran Pada Selamatan Atau Arak-Arakan. Oleh Karena Itu, "Pare Dongdang" Atau "Penggeres Reuma" Ini Lebih Bersifat Barang Antaran.
Panggeres Adalah Hasil Lebih Atau Hasil Cuma-Cuma Tanpa Usaha. Reuma Adalah Bekas Ladang. Jadi, Padi Yang Tumbuh Terlambat [ Turiang ] Di Bekas Ladang Setelah Dipanen Dan Kemudian Ditinggalkan Karena Petani Membuka Ladang Baru, Menjadi Hak Raja Atau Penguasa Setempat [ Tohaan ]. Dongdang Adalah Alat Pikul Seperti "Tempat Tidur" Persegi Empat Yang Diberi Tali Atau Tangkai Berlubang Untuk Memasukan Pikulan. Dondang Harus Selalu Digotong. Karena Bertali Atau Bertangkai, Waktu Digotong Selalu Berayun Sehingga Disebut "Dondang" [ Berayun ]. Dondang Pun Khusus Dipakai Untuk Membawa Barang Antaran Pada Selamatan Atau Arak-Arakan. Oleh Karena Itu, "Pare Dongdang" Atau "Penggeres Reuma" Ini Lebih Bersifat Barang Antaran.
Buletin Bagian KaTilu
Bagian III
Waktu Mudanya Sri Baduga Terkenal Sebagai Kesatria Pemberani Dan Tangkas Bahkan Satu-Satunya Yang Pernah Mengalahkan Ratu Japura [ Amuk Murugul ] Waktu Bersaing Memperbutkan Subanglarang [ Istri Kedua Prabu Siliwangi Yang Beragama Islam ]. Dalam Berbagai Hal, Orang Sejamannya Teringat Kepada Kebesaran Mendiang Buyutnya [ Prabu Maharaja Lingga Buana ] Yang Gugur Di Bubat Yang Digelari Prabu Wangi. Pustaka Rajyarajya I Bhumi Nusantara II/2 Mengungkapkan Bahwa Orang Sunda Menganggap Sri Baduga Sebagai Pengganti Prabu Wangi, Sebagai Silih Yang Telah Hilang. Naskahnya Berisi Sebagai Berikut [ Artinya Saja ]:
Waktu Mudanya Sri Baduga Terkenal Sebagai Kesatria Pemberani Dan Tangkas Bahkan Satu-Satunya Yang Pernah Mengalahkan Ratu Japura [ Amuk Murugul ] Waktu Bersaing Memperbutkan Subanglarang [ Istri Kedua Prabu Siliwangi Yang Beragama Islam ]. Dalam Berbagai Hal, Orang Sejamannya Teringat Kepada Kebesaran Mendiang Buyutnya [ Prabu Maharaja Lingga Buana ] Yang Gugur Di Bubat Yang Digelari Prabu Wangi. Pustaka Rajyarajya I Bhumi Nusantara II/2 Mengungkapkan Bahwa Orang Sunda Menganggap Sri Baduga Sebagai Pengganti Prabu Wangi, Sebagai Silih Yang Telah Hilang. Naskahnya Berisi Sebagai Berikut [ Artinya Saja ]:
Buletin Bagian KaDua
Bagian II
Lain Dengan Galuh, Nama Kawali Terabadikan Dalam Dua Buah Prasasti Batu Peninggalan Prabu Raja Wastu Yang Tersimpan Di Astana Gede, Kawali. Dalam Prasasti Itu Ditegaskan "Mangadeg Di Kuta Kawali" [ Bertahta Di Kota Kawali ] Dan Keratonnya Disebut Surawisesa Yang Dijelaskan Sebagai "Dalem Sipawindu Hurip" [ Keraton Yang Memberikan Ketenangan Hidup ]. Prabu Raja Wastu Atau Niskala Wastu Kancana Adalah Putera Prabu Maharaja Lingga Buana Yang Gugur Di Medan Bubat Dalam Tahun 1357. Ketika Terjadi Pasunda Bubat, Usia Wastu Kancana Baru 9 Tahun Dan Ia Adalah Satu-Satunya Ahli Waris Kerajaan Yang Hidup Karena Ketiga Kakaknya Meninggal.
Lain Dengan Galuh, Nama Kawali Terabadikan Dalam Dua Buah Prasasti Batu Peninggalan Prabu Raja Wastu Yang Tersimpan Di Astana Gede, Kawali. Dalam Prasasti Itu Ditegaskan "Mangadeg Di Kuta Kawali" [ Bertahta Di Kota Kawali ] Dan Keratonnya Disebut Surawisesa Yang Dijelaskan Sebagai "Dalem Sipawindu Hurip" [ Keraton Yang Memberikan Ketenangan Hidup ]. Prabu Raja Wastu Atau Niskala Wastu Kancana Adalah Putera Prabu Maharaja Lingga Buana Yang Gugur Di Medan Bubat Dalam Tahun 1357. Ketika Terjadi Pasunda Bubat, Usia Wastu Kancana Baru 9 Tahun Dan Ia Adalah Satu-Satunya Ahli Waris Kerajaan Yang Hidup Karena Ketiga Kakaknya Meninggal.
Buletin Bagian KaHiji
Bagian I
Pusat Pemerintahan Kerajaan Pajajaran Selalu Berpindah-Pindah, Seperti Kawali Yang Juga Pernah Dijadikan Sebagai Ibu Kota Kerajaan Pajajaran. Keturunan Manarah Dalam Garis Turunan Laki-Laki Terputus Sehingga Pada Tahun 852 Tahta Galuh Jatuh Kepada Keturunan Banga, Yaitu Rakeyan Wuwus Yang Beristrikan Puteri Keturunan Galuh. Sebaliknya Adik Perempuan Rakeyan Wuwus Menikah Dengan Putera Galuh Yang Kemudian Menggantikan Kedudukan Iparnya Sebagai Raja Sunda IX Dengan Gelar Prabu Darmaraksa Buana.
Pusat Pemerintahan Kerajaan Pajajaran Selalu Berpindah-Pindah, Seperti Kawali Yang Juga Pernah Dijadikan Sebagai Ibu Kota Kerajaan Pajajaran. Keturunan Manarah Dalam Garis Turunan Laki-Laki Terputus Sehingga Pada Tahun 852 Tahta Galuh Jatuh Kepada Keturunan Banga, Yaitu Rakeyan Wuwus Yang Beristrikan Puteri Keturunan Galuh. Sebaliknya Adik Perempuan Rakeyan Wuwus Menikah Dengan Putera Galuh Yang Kemudian Menggantikan Kedudukan Iparnya Sebagai Raja Sunda IX Dengan Gelar Prabu Darmaraksa Buana.
Buletin BSS Bulan April (Full)
Bagian I
Pusat Pemerintahan Kerajaan Pajajaran Selalu Berpindah-Pindah, Seperti Kawali Yang Juga Pernah Dijadikan Sebagai Ibu Kota Kerajaan Pajajaran. Keturunan Manarah Dalam Garis Turunan Laki-Laki Terputus Sehingga Pada Tahun 852 Tahta Galuh Jatuh Kepada Keturunan Banga, Yaitu Rakeyan Wuwus Yang Beristrikan Puteri Keturunan Galuh. Sebaliknya Adik Perempuan Rakeyan Wuwus Menikah Dengan Putera Galuh Yang Kemudian Menggantikan Kedudukan Iparnya Sebagai Raja Sunda IX Dengan Gelar Prabu Darmaraksa Buana.
Kehadiran Orang Galuh Sebagai Raja Sunda Di Pakuan Waktu Itu Belum Dapat Diterima Secara Umum, Hal Ini Dapat Dimaklumi Karena Sama Halnya Dengan Kehadiran Sanjaya Dan Tamperan Sebagai Orang Sunda Di Galuh. Bahkan Prabu Darmaraksa [ 891 - 895 ] Tewas Dibunuh Oleh Seorang Menteri Sunda Yang Sangat Fanatik Akan Hal Ini. Setelah Peristiwa Itu, Tiap Raja Sunda Yang Baru Pastilah Akan Selalu Memperhitungkan Tempat Kedudukan Yang Akan Dipilihnya Menjadi Pusat Pemerintahan. Dengan Demikian, Pusat Pemerintahan Itu Berpindah-Pindah Dari Barat Ke Timur Dan Sebaliknya. Antara Tahun 895 Sampai Tahun 1311 Kawasan Jawa Barat Diramaikan Sewaktu-Waktu Oleh Iring-Iringan Rombongan Raja Baru Yang Berpindah Tempat.
Ayah Sri Jayabupati Berkedudukan Di Galuh, Sri Jayabupati Di Pakuan, Tetapi Puteranya Berkedudukan Di Galuh Lagi. Dua Raja Berikutnya [ Raja Sunda Ke-22 Dan Ke-23 ] Memerintah Kembali Di Pakuan. Raja Ke-24 Memerintah Di Galuh Dan Raja Ke-25, Yaitu Prabu Guru Darmasiksa Mula-Mula Berkedudukan Di Saunggalah, Kemudian Pindah Lagi Ke Pakuan. Puteranya, Prabu Ragasuci, Berkedudukan Di Saunggalah. Proses Kepindahan Seperti Ini Memang Merepotkan, Namun Pengaruh Positifnya Jelas Sekali Dalam Hal Pemantapan Etnik Di Jawa Barat. Antara Galuh Dengan Sunda Memang Terdapat Kelainan Dalam Hal Tradisi.
Pusat Pemerintahan Kerajaan Pajajaran Selalu Berpindah-Pindah, Seperti Kawali Yang Juga Pernah Dijadikan Sebagai Ibu Kota Kerajaan Pajajaran. Keturunan Manarah Dalam Garis Turunan Laki-Laki Terputus Sehingga Pada Tahun 852 Tahta Galuh Jatuh Kepada Keturunan Banga, Yaitu Rakeyan Wuwus Yang Beristrikan Puteri Keturunan Galuh. Sebaliknya Adik Perempuan Rakeyan Wuwus Menikah Dengan Putera Galuh Yang Kemudian Menggantikan Kedudukan Iparnya Sebagai Raja Sunda IX Dengan Gelar Prabu Darmaraksa Buana.
Kehadiran Orang Galuh Sebagai Raja Sunda Di Pakuan Waktu Itu Belum Dapat Diterima Secara Umum, Hal Ini Dapat Dimaklumi Karena Sama Halnya Dengan Kehadiran Sanjaya Dan Tamperan Sebagai Orang Sunda Di Galuh. Bahkan Prabu Darmaraksa [ 891 - 895 ] Tewas Dibunuh Oleh Seorang Menteri Sunda Yang Sangat Fanatik Akan Hal Ini. Setelah Peristiwa Itu, Tiap Raja Sunda Yang Baru Pastilah Akan Selalu Memperhitungkan Tempat Kedudukan Yang Akan Dipilihnya Menjadi Pusat Pemerintahan. Dengan Demikian, Pusat Pemerintahan Itu Berpindah-Pindah Dari Barat Ke Timur Dan Sebaliknya. Antara Tahun 895 Sampai Tahun 1311 Kawasan Jawa Barat Diramaikan Sewaktu-Waktu Oleh Iring-Iringan Rombongan Raja Baru Yang Berpindah Tempat.
Ayah Sri Jayabupati Berkedudukan Di Galuh, Sri Jayabupati Di Pakuan, Tetapi Puteranya Berkedudukan Di Galuh Lagi. Dua Raja Berikutnya [ Raja Sunda Ke-22 Dan Ke-23 ] Memerintah Kembali Di Pakuan. Raja Ke-24 Memerintah Di Galuh Dan Raja Ke-25, Yaitu Prabu Guru Darmasiksa Mula-Mula Berkedudukan Di Saunggalah, Kemudian Pindah Lagi Ke Pakuan. Puteranya, Prabu Ragasuci, Berkedudukan Di Saunggalah. Proses Kepindahan Seperti Ini Memang Merepotkan, Namun Pengaruh Positifnya Jelas Sekali Dalam Hal Pemantapan Etnik Di Jawa Barat. Antara Galuh Dengan Sunda Memang Terdapat Kelainan Dalam Hal Tradisi.
Rabu, 11 April 2012
Renungan : Kasih IBU
Seorang ibu dalam hidupnya membuat kebohongan demi kita.
- Saat makan, jika makanan kurang, Ia akan memberikan makanan itu kpd anaknya dan berkata, "Cepatlah makan, ibu tidak lapar."
- Waktu makan, Ia selalu menyisihkan ikan dan daging untuk anaknya dan berkata, "ibu tidak suka daging, makanlah, nak.."
- Tengah malam saat dia sdg menjaga anaknya yg sakit, Ia berkata, "Istirahatlah nak, ibu masih belum ngantuk.."
- Saat anak sudah tamat sekolah, bekerja, mengirimkan uang untuk ibu. Ia berkata, "Simpanlah untuk keperluanmu nak, ibu masih punya uang."
- Saat anak sudah sukses, menjemput ibunya untuk tinggal di rumah besar, Ia lantas berkata, "Rumah tua kita sangat nyaman, ibu tidak terbiasa tinggal di sana."
- Saat menjelang tua, ibu sakit keras, anaknya akan menangis, tetapi ibu masih bisa tersenyum sambil berkata, "Jangan menangis, ibu tidak apa apa." Ini adalah kebohongan terakhir yg dibuat ibu.
By :
Adam Subang
Selasa, 10 April 2012
Rupa-rupa Seuri
RUPA-RUPA SEURI
- Seuri -> lemesna gumujeng --> ngedalkeun rasa suka, bungah atawa resep, ku sora ngahahah, ngehkey, jste.
- Seuseurian --> seuri lila.
- Nyeungseurikeun --> seuri ditujukeun ka nu kalakuanana teu psrok jeung batur.
- Ngajak seuri -->seuri bari nyanghareup ka batur jeung némbongkeun budi marahmay.
- Seuri konéng = seuri maur --> (kecap-kecapan), seuri bari rada éra atawa nyeri, upamana tas ceurik atawa tas ambek.
- Seuri leutik --> seuri ditahan atawa seuri jero haté.
- Nyalakatak --> seuri ngeunah sarta bedas ngagakgak.
- Nyéréngéh --> seuri teu nyoara tapi némbongkeun huntu.
- Héhéh, ngahéhéh atawa ngahihih --> seuri ditahan.
- Gikgik, ngagikgik --> seuri ditaha
- Heuheuy atawa heuheuy deuh --> kantétan pikeun ngageuhgeuykeun omongan batur.
- Imut -> lemesna mésem --> seuri leutik, seuri ukur ku kunyemna biwir, henteu nyoara.
- Imut kanjut --> imut ku cara ngariutkeun biwir.
- Imut ngagelenyu --> imut rada lila lantaran kayungyun ku polah batur.
- Kéom atawa kényom --> imut rada ka gigir biwirna.
Rupa-rupa Leumpang
RUPA-RUPA LEUMPANG
- Boyot = leumpang kendor bangun beurat awak.
- Déog/péngkor =leumpang dingdet lantaran suku nu sabeulah rada pondok.
- Dohot-dohot = leumpang lalaunan bari semu dodongkoan cara peta nu ngadodoho.
- Égang/égol = leumpang cara budak nu anyar disunatan lantaran bisul dina palangkakan, jsté.
- Gonjléng = leumpang awéwé bari ngobah-ngobahkeun awak, haying narik perhatian lalaki.
- Ingkud-ingkuan/jingkrung = leumpang teu bener lantaran nyeri suku, jsté.
- Jarigjeug/jumarigjeug = leumpang bari semu rék labuh (biasana jalma nu geus kurang tanaga atawa nu kakara hudang gering).
Rupa-rupa Diuk
RUPA-RUPA DIUK
- Andegléng = diuk ajeg tumaninah dina korsi.
- Andéprok = émok rékép.
- Anjeucleu = diuk ngeunah-ngeunah di tempat nu rada luhur.
- Campego = cingogo kawas aya nu didagoan.
- Candeluk = diuk sabaraha lila kawas aya nu didagoan.
- Cangogo/cingogo = nagog, peta saperti nu keur bubuang.
- Émok = diuk awéwé, sukuna duanana ditikelkeun semu ka gigir ditindihan ku dua pingping.
- Émok cabok = émok nu pingpingna dipatumpangkeun.
- Nagog = cingogo.
Obahna Suku
OBAHNA SUKU
- Jéngké = ngangkatkeun keuneung nepi ka napak ku ramo suku.
- Najong = ngeunakeun (ramo) suku kalayan ngagentak kana barang, jsté.
- Nalapung = nyépak (bal, jsté) ka luhur ku tonggong suku (sanggeus dialungkeun heula).
- Nalipak = nyépak ku dampal suku.
- Néjéh = nyépak ku suku tukang (kuda, kaldé, jsté).
- Nincak = napakkeun dampal suku.
- Nokér = ngésérkeun barang ku suku rada ka gigir atawa ka tukang.
- Ngajejek = nincak barang ngagentak ku dampal suku.
- Ngaréngkas = ngahalangan léngkah batur ku suku urang (sina labuh).
- Nyépak = ngeunakeun suku kalawan maké tanaga kana barang (bal, jsté).
Obahna Leungeun
OBAHNA LEUNGEUN
- Garo, gagaro = ngeruk-ngerukkeun ramo leungeun (kuku) kana kulit lebah nu ateul.
- Garo ganyang = gagaro saluar awak.
- Garo maling = gagaro bari teu sadar, keur saré.
- Garo singsat = gagaro bari nyingsat, lantaran geus teu sabar, atawa lantaran ambek (awéwé).
- Garo-garo teu ateul = gagaro tukangeun ceuli, nandakeun bingung atawa keuheul.
- Gupay, ngagupay = ngobahkeun leungeun tanda nitah nyampeurkeun, nyalukan ku isarah leungeun.
- Gugupay = ngobahkeun leungeun tanda mileuleuyankeun (nu indit atawa nu mileuleuyankeun).
- Malédog = ngalungkeun batu, jsté. Kalawan tarik, kana sato: anjing, jsté.
- Mencét = neueulkeun atawa ngadempétkeun indung leungeunjeung curuk kana barang, bagian awak, jsté.
- Mencétan = neueul-neueulkeun indung leungeun kana awak batur nu karasa carangkeul atawa nyareri sangkan cageur.
Sesebutan ka Jelema
SESEBUTAN KA JELEMA
- Aki-aki = lalaki nu geus kolot pisan.
- Balég tampélé = mangkat begér, wani di tukangeun, ari di hareupeun éra kénéh.
- Bijil bulu mayang = saharti jeung balég tampélé.
- Budak = anak jalma nu can balég.
- Budak gumélo = budak nu san boga jeujeuhan (pikiran) lantaran budak kénéh, kira-lira umur 2-4 taun.
- Budak kamalolé = budak nu nurutkeun kapercayaan baheula kudu diruat, lantaran aya tanda wisnu (tanda bodas) dina awakna, biasana rarungsing teu daék cicing bari teu kanyahoan naon sababna atawa kasakitna.
- Budak pahatu = budak nu geus teu boga indung (ditinggalkeun maot).
- Budak yatim = budak nu geus teu boga bapa (ditinggalkeun maot).
- Budak pahatulalis = budak nu geus teu boga indung teu boga bapa.
- Bujang = lalaki nu geus balég tapi can kawin.
Senin, 09 April 2012
Undak-Usuk / Tatakrama Basa Sunda
UNDAK-USUK
/ TATAKRAMA BASA SUNDA
Abus, asup Lebet
Lebet
Acan, tacan, encan Teu acan Teu acan
Adi
Pun
Adi Tuang
rai, rayi
Adu, ngadu Aben, ngaben Ngaben
Ais, ngais Ngemban Ngemban
Ajang, keur, pikeun Kanggo Haturan
Ajar, ngajar Ngajar Ngawulang,
Aji, ngaji Ngaji Ngaos
Akang Akang
Engkang
Aki Pun
aki Tuang éyang,
éyang
Aku, ngaku Aku, ngaku Angken, ngangken
Ali Ali Lélépén
Alo Pun
alo Kapiputra,
tuang putra
Alus Saé Saé
Langganan:
Postingan (Atom)